..::AHLAN WA SAHLAN WA MARHABAN BIKUM::..

ASSALAMU'ALAIKUM & SELAMAT DATANG KE BLOG USTAZ MOHAMAD SYAHMI BIN HARUN.

..::MUSHAF AL-QURAN AL-KARIM::..



MUAT TURUN MUSHAF AL-QURAN AL-KARIM :
MUSHAF AL-QURAN TAJWID BESERTA TERJEMAHAN DALAM BAHASA MALAYSIA

YA ALLAH YA TUHAN KAMI, SAMPAIKANLAH KAMI KE BULAN RAMADHAN TAHUN 1443H

..::GALERI ALBUM PANITIA BAHASA ARAB SKBLM::..

                                                                                                                                                                                                                   

PENDEKATAN BEYBLADE BURST TARIK MINAT MURID SEKOLAH RENDAH PELAJARI BAHASA ARAB DENGAN LEBIH SANTAI, SERONOK DAN TERHIBUR



HARIAN METRO ONLINE :
BEYBLADE BURST LONJAK SEMANGAT BELAJAR MURID DALAM MATA PELAJARAN BAHASA ARAB SEKOLAH RENDAH
SEMINAR PINTAR BESTARI BAHASA ARAB 2022
BERSAMA DR. ABD RAZAK ABU CHIK (DR. ARABIC) KHUSUS UNTUK MURID SKBLM

.::(SABTU, 6 OGOS 2022)::.

.::BERSAMA MEMARTABAT & MEMPERKASAKAN BAHASA AL-QURAN.::.

..::MAKLUMAN TERKINI::..

Blog ini telah dikemaskini pada 16 April 2022.


.::Aktiviti Panitia Bahasa Arab SK Bandar Laguna Merbok Tahun 2022::.

Seminar Pintar Bestari Bahasa Arab 2022 Bersama Dr. Arabic.

Hari : Sabtu.
Tarikh : 6 Ogos 2022.
Masa : 8.00 Pagi - 1.00 Tengah Hari.

Tempat :
Dewan Serbaguna SK Bandar Laguna Merbok.


Majlis Pelancaran Minggu Bahasa Arab Peringkat Sekolah Tahun 2022.

Hari : Ahad.
Tarikh : 23 Oktober 2022.
Masa : 7.45 Pagi - 8.15 Pagi.
Tempat : Dataran Perhimpunan SK Bandar Laguna Merbok.


Bengkel Digital Classroom Panitia Pendidikan Islam/Bahasa Arab SKBLM Tahun 2022.

Hari : Sabtu.
Tarikh : 5 November 2022.
Masa : 8.30 Pagi - 12.30 Tengah Hari.
Tempat : Bilik Bestari j-QAF SK Bandar Laguna Merbok.


Klik sini :
Telegram Rasmi Ustaz Syahmi Beyblade (USB)


Klik sini :
Pembelajaran Interaktif Pendidikan Islam


Klik sini :
Pembelajaran Interaktif Bahasa Arab

PENGUNJUNG SETIA BLOG RASMI MOHAMAD SYAHMI BIN HARUN (GBA SK LAGUNA MERBOK)

Showing posts with label ILMU SULUH HIDUP. Show all posts
Showing posts with label ILMU SULUH HIDUP. Show all posts

31 January 2009

SIFAT DAN TABIAT YAHUDI DALAM AL-QURAN


Di dalam kita memperkatakan tentang kekejaman dan kejahatan Yahudi saat ini yang masih berterusan di Gaza, ada baiknya kita mendalami apakah peringatan dari Allah kepada kita semua berkenaan kaum terkutuk ini di dalam Al-Quran. Sesungguhnya di dalam al-Quran terdapat banyak ayat yang menjelaskan dan memberitakan tentang kaum Yahudi ini agar kita mengambil peringatan darinya.


Beberapa karakter buruk mereka adalah:



(1) Durhaka dan melampaui batas, serta membiarkan kemungkaran yang terjadi di antara mereka. Allah SWT berfirman:


لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78)


كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)


Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” [TMQ al-Maidah (5):78-79].


Dan mereka semakin durhaka sesudah al-Quran diturunkan. Allah SWT berfirman:


وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka” [TMQ al-Maidah (5):64].


(2) Menjadikan kaum kafir lain sebagai pelindung dan penolong mereka.

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80)
وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (81


Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, iaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam seksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), nescaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” [TMQ al-Maidah (5):80-81].


(3) Permusuhan mereka yang amat besar terhadap Islam dan umatnya. Allah SWT berfirman:


لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” [TMQ al-Maidah (5):82].


(4) Hati mereka keras laksana batu, bahkan lebih keras lagi. Di antara penyebabnya adalah karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman:


فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu” [TMQ al-Maidah (5):13].

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan". [TMQ al-Baqarah (2):74].


(5) Suka melanggar perjanjian yang mereka buat sendiri, termasuk perjanjian dengan Allah SWT dan rasul-rasul-Nya. Dan oleh karena itu mereka mendapat murka Allah dan berbagai hukumanNya. Allah SWT berfirman:

فَرَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ أَمْ أَرَدْتُمْ أَنْ يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَخْلَفْتُمْ مَوْعِدِي

Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Wahai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku?” [TMQ Thaha (20):86].

Allah Swt berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka” [TMQ al-Nisa’ (4):155].


(6) Mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh ramai nabi. Dan itu menyebabkan mereka senantiasa diliputi dengan kehinaan dan kerendahan di mana pun mereka berada. Allah SWT berfirman:


ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas” [TMQ Ali Imran (3):112].

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka” [TMQ al-Nisa’ (4):155].

وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu adzab yang membakar.” [TMQ Ali Imran (3):181].


(7) Banyak berbuat lancang terhadap Allah SWT, seperti menuduh Allah SWT miskin dan tangan Allah terbelenggu. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya’, Kami akan mencatat perkataan mereka itu" [TMQ Ali Imran (3):181].
Allah SWT berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki” [QS al-Maidah (5):64].


(8) Memalsukan kitab dengan tangan mereka, memalingkan dari maksud sebenarnya, dan menghilangkan sebahagiannya. Allah SWT berfirman:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan” [TMQ al-Baqarah (2):79].

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar’, tetapi kami tidak mahu menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): ‘Dengarlah’ sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa" [TMQ al-Nisa’ (4):46].
يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya" [TMQ al-Maidah (5):13].
أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” [TMQ al-Baqarah (2):75].


(9) Amat tamak terhadap dunia, bahkan melebihi orang Musyrik. Menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian. Allah SWT berfirman:
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari seksa” [TMQ al-Baqarah (2):96].


(10) Mengenal benar siapa Rasulullah SAW, namun mereka menyembunyikan kebenaran. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” [TMQ al-Baqarah (2):146].


(11) Mengikuti hawa nafsunya, hingga risalah yang dibawa Rasul pun harus sejalan dengan hawa nafsu mereka. Jika tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka akan menolak dan mendustakannya. Allah SWT berfirman:
أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

Apakah setiap kali datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara Rasul) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” [TMQ al-Baqarah (2):87].


(12) Tidak senang terhadap kaum Muslimin selama tidak mengikuti milah mereka. Allah SWT berfirman:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” [TMQ al-Baqarah (2):120].


(13) Berdusta atas nama Allah SWT dengan mengatakan bahawa mereka adalah anak-anak Allah dan kekasihNya. Allah SWT berfirman:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya’. Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyeksa kamu karena dosa-dosamu?’ (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya” [TMQ al-Maidah (5):18].


(14) Sombong dan takabbur, hingga mereka pernah diubah wujudnya menjadi kera yang hina. Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina” [TMQ al-A’raf (7):166]


(15) Di antara mereka terdapat permusuhan dan kebencian hingga hari kiamat. Allah SWT berfirman:
وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat” [TMQ al-Maidah (5):64].


(16) Suka berbuat kerosakan di muka bumi. Allah SWT berfirman:
وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka berbuat kerosakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerosakan” [TMQ al-Maidah (5):64].


(17) Berbuat zalim dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Allah SWT berfirman:
فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah" [TMQ al-Nisa (4):160].


(18) Suka memakan harta haram, seperti rasuah dan riba, padahal telah diharamkan kepada mereka. Allah SWT berfirman:
وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ

“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram [TMQ al-Maidah (5):62].

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ

Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil” [TMQ al-Nisa (4):161].


(19) Suka mendengarkan berita bohong. Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آَمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آَخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا

Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, iaitu dari kalangan orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: ‘Kami telah beriman’, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) dari kalangan orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: ‘Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah” [TMQ al-Maidah (5):42].


Inilah sebahagian dari sifat dan sikap Yahudi yang terdapat di dalam al-Quran. Selain sifat dan sikap yang telah dipaparkan di atas, masih banyak lagi perkara buruk lainnya tentang Yahudi ini yang disebutkan dalam Al-Quran.


Berpandukan ayat-ayat Allah ini, akan memudahkan kita dalam mengambil sikap dan pendirian di dalam menghadapi kaum terkutuk ini. Terhadap kaum yang terkumpul pelbagai sifat dan sikap buruk yang dijelaskan oleh Allah SWT sendiri, malangnya masih ada pemimpin kaum Muslimin yang membuat perjanjian dan mengambil mereka sebagai wali (pemimpin, pelindung, penolong, pembantu dll) dan bithanah (orang kepercayaan). Masih ada pemimpin yang berbaik dan berjabat tangan dengan golongan terlaknat ini dan “menolong” mereka membunuh saudara-saudara seIslam kita di Palestin. Sesungguhnya Allah SWT mengingatkan kita juga bahawa,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali(mu); sebahagian mereka adalah wali bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ” [TMQ al-Ma’idah (5):51]


Wallahu’alam.


04 January 2009

MENGUASAI PERIHAL JAWI


Menguasai Perihal Jawi

Oleh : Tarmizi Abdul Rahim


TULISAN jawi begitu sinonim dengan bangsa Melayu, malah disedari atau tidak ia terlalu istimewa kerana di seluruh dunia, tulisan ini hanya terdapat dalam masyarakat Melayu sahaja berbanding tulisan rumi yang digunakan secara meluas dalam pelbagai medium bahasa.


Penemuan Batu Bersurat Terengganu pada tahun 1303 menjadi asas penting kewujudan tulisan jawi di negara ini. Ia membuktikan bahawa tulisan tersebut sampai ke negara ini lebih awal berbanding tulisan rumi yang hanya ditemui pada akhir abad ke 19.


Ia yang berasal daripada tulisan Arab ini berkait rapat dengan kedatangan Islam ke Nusantara dan terus berkembang serta mendapat kedudukan yang tinggi di negara ini terutamanya semasa penjajahan British dahulu.


Seterusnya, bermula awal abad ke-20, ia menjadi medium utama dalam institusi akhbar di Tanah Melayu bagi menyebarkan pelbagai maklumat dan meniup api kebebasan kepada rakyat sehingga negara mencapai kemerdekaan.


Selari dengan perkembangan semasa, penggunaan dan pengaruh tulisan jawi semakin terhakis dan dilupakan sehingga terdapat segelintir warganegara yang tidak tahu membaca dan menulis jawi.


Menyedari kepincangan ini memandangkan tulisan itu merupakan warisan Melayu dan juga sebagai salah satu medium pembelajaran agama, Kementerian Pelajaran Malaysia pada 2004 telah memperkenalkan pembelajaran tulisan jawi melalui program Jawi, al-Quran, Bahasa Arab dan Fardu Ain (j-QAF) di sekolah rendah.


Program tersebut menampakkan hasil memberangsangkan apabila semakin ramai murid sekolah rendah 'celik jawi' berbanding sebelum pelaksanaan program tersebut. Langkah itu adalah bagi menambah baik pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Islam dan Bahasa Arab di sekolah-sekolah bertepatan dengan hasrat Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi untuk melahirkan generasi kepimpinan yang lengkap duniawi dan ukhrawi.


Usaha penerbitan buku ini, Mari Baca Jawi yang disesuaikan dengan sukatan j-QAF dan mensasarkan kepada murid sekolah rendah dan tadika, adalah bertepatan dengan masanya.


Buku ini mempunyai tarikan tersendiri seperti penggunaan warna yang pelbagai, tulisan jawi besar 'khat nasakh' dan penggunaan objek contoh dalam medium kartun yang bukan sahaja akan menarik perhatian kumpulan sasar tetapi turut menggamit minat orang dewasa.


Berdasarkan kepada tinjauan dan pengalaman penulis mengajar sendiri di sekolah rendah, maka terhasillah buku ini yang mengetengahkan lima jenis penguasaan kemahiran bersesuaian dengan tiga kumpulan pelajar iaitu cerdik, sederhana dan lemah.


Pendekatan yang digunakan dalam buku ini ialah 'Teori Biji Benih' di mana pelajar akan melihat bagaimana perkataan yang terbina daripada huruf tunggal menjadi suku kata dan seterusnya menjadi perkataan.


Ia berkait rapat dengan lima teknik penguasaan kemahiran yang diterapkan, bermula dengan pengenalan dan pengecaman huruf tunggal dengan bantuan gambar yang dipadankan dengan permulaan sebutan objek gambar itu.


Peringkat kedua dan ketiga, pendedahan kemahiran sifir suku kata terbuka dan tertutup berdasarkan perkataan lazim yang sering digunakan dalam seharian; kemahiran membina perkataan daripada suku kata yang telah dikuasai dan akhir sekali para pelajar akan diajar membaca cerita yang dibina daripada perkataan-perkataan mudah yang dibantu pecahan dua warna berlainan.


Buku ini merupakan jilid pertama yang bertindak sebagai pendedahan sebelum disusuli dengan jilid kedua dalam masa terdekat.


Sumber : Utusan Malaysia

26 December 2008

HUKUM ORANG ISLAM MENYAMBUT PERAYAAN KRISMAS



HUKUM ORANG ISLAM MENYAMBUT PERAYAAN KRISMAS

DAN PERAYAAN AGAMA-AGAMA LAIN.



HARAM MELIBATKAN DIRI DALAM PERAYAAN KUFUR



Pada dasarnya, Islam telah melarang kaum muslimin menyambut dan melibatkan diri dalam perayaan orang-orang kafir serta mengucapkan selamat hari krismas, selamat tahun baru cina, happy deepavali, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kad selamat/ucapan perayaan orang kafir dan sebagainya.



Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah swt;



وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (الفرقان: 72).



Menurut sebahagian besar ulama tafsir, makna kata al-zur (kepalsuan) di sini adalah syirik (Imam al-Syaukani, Fath al-Qadir, juz 4, hal. 89). Beberapa ulama tafsir seperti Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, menyatakan bahawa makna al-zur di sini adalah perayaan kaum Musyrik. Selanjutnya, Amru bin Qays menafsirkannya sebagai majlis-majlis yang buruk dan kotor (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 1346).



Sedangkan kata la yasyhaduna, menurut jumhur ulama’ lafaz la yahdhuruna al-zur bermakna tidak menghadirinya (Imam al-Syaukani, Fath al-Qadir, juz 4, hal. 89). Memang ada yang memahami ayat ini berkenaan dengan pemberian kesaksian palsu (syahadah al-zur) yang di dalam Hadis Shahih dikategorikan sebagai dosa besar. Akan tetapi, dari konteks kalimahnya, la yahdhurunahu lebih tepat diberi makna tidak menghadirinya. Dalam frasa berikutnya disebutkan:



وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا



“Dan apabila mereka melintasi (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (TMQ. al-Furqan [25]: 72).



Dengan demikian, keseluruhan ayat ini memberikan pengertian bahawa mereka tidak menghadiri al-zur. Dan jika mereka melintasi/melaluinya, maka mereka segera melaluinya, dan tidak mahu terjebak sedikit pun olehnya (lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 1346).



Berdasarkan ayat ini pula, banyak fuqaha’ yang menyatakan haramnya menghadiri perayaan orang kafir. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Kaum Muslimin telah diharamkan untuk merayakan perayaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. “ (Ibnu Tamiyyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal.201).



Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum muslimin diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal.201).



Imam al-Amidi dan Qadhi Abu Bakar al-Khalal menyatakan,”Kaum Mmuslim dilarang keluar untuk menyaksikan perayaan orang-orang kafir dan musyrik.” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal.201).



Al-Qadhi Abu Ya’la al-Fara’ berkata, “Kaum Muslimin telah dilarang untuk merayakan perayaan orang-orang kafir atau musyrik”. (Ibnu Tamiyyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal. 201)



Imam Malik menyatakan, “Kaum Muslimin telah dilarang untuk merayakan perayaan orang-orang musyrik atau kafir, atau memberikan sesuatu (hadiah), atau menjual sesuatu kepada mereka, atau naik kenderaan yang digunakan mereka untuk merayakan perayaannya. Sedangkan memakan makanan yang disajikan kepada kita hukumnya makruh, baik makanan itu dihantar oleh mereka atau mereka mengundang kita.” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal. 201).



Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “Sebagaimana mereka (kaum Musyrik) tidak diperbolehkan menampakkan syiar-syiar mereka, maka tidak diperbolehkan pula bagi kaum Muslimin menyetujui dan membantu mereka melakukan syiar itu serta hadir bersama mereka. Demikian menurut kesepakatan ahli ilmu.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1. hal. 235).



Abu al-Qasim al-Thabari mengatakan, “Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslimin menghadiri perayaan mereka kerana mereka berada dalam kemungkaran dan kedustaan (zawr). Apabila ahli ma’ruf bercampur dengan ahli mungkar, tanpa mengingkari mereka, maka ahli ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meredhai dan terpengaruh dengan kemungkaran itu. Maka kita takut akan turunnya murka Allah atas jama’ah mereka, yang meliputi secara umum. Kita berlindung kepada Allah dari murka-Nya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1. hal. 235).



Abdul Malik bin Habib, salah seorang ulama Malikiyyah menyatakan, “Mereka tidak dibantu sedikit pun pada perayaan mereka. Sebab, tindakan itu merupakan penghormatan terhadap kemusyrikan mereka dan membantu kekufuran mereka. Dan seharusnya para penguasa melarang kaum Muslimin melakukan perbuatan tersebut. Ini adalah pendapat Imam Malik dan lainnya. Dan aku tidak mengetahui perselisihan tentang hal itu” (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, juz 6 hal 110).



Pada masa-masa kejayaan Islam, pemerintahan Islam saat itu –sejak masa Rasulullah saw –, kaum muslimin tidak diperbolehkan merayakan perayaan ahlul Kitab dan kaum musyrik. Dari Anas ra bahawa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan, baginda saw pun bersabda:



قَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ



“Sungguh Allah swt telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, iaitu Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i dengan sanad yang shahih).



Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab, beliau juga telah melarang kaum muslimin merayakan perayaan orang-orang kafir. Imam Baihaqi telah menuturkan sebuah riwayat dengan sanad shahih dari ‘Atha’ bin Dinar, bahawa Umar ra pernah berkata,



لَا تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الْأَعَاجِمِ وَلَا تَدْخُلُوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِي كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ



“Janganlah kalian mempelajari bahasa-bahasa orang-orang Ajam. Janganlah kalian memasuki kaum Musyrik di gereja-gereja pada hari raya mereka. Sesungguhnya murka Allah swt akan turun kepada mereka pada hari itu.” (HR. Baihaqi).



Umar bin al-Khaththtab ra juga mengatakan:



اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ فِي عِيدِهِمْ



“Jauhilah musuh-musuh Allah pada hari raya mereka.”



Demikianlah, Islam telah melarang umatnya melibatkan diri dalam perayaan orang-orang kafir.



Menghilangkan Syubhat



Di antara ayat yang seringkali digunakan untuk menjustifikasi pandangan golongan yang membolehkan mengucapkan selamat hari krismas adalah firman Allah Swt:





وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا





“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (TMQ. Maryam [19]: 33).





Memang dalam ayat ini disebutkan tentang keselamatan pada hari kelahiran Isa. Akan tetapi, itu tidak ada kaitannya dengan ucapan selamat hari krismas. Sebab, krismas adalah perayaan dalam rangka memperingati kelahiran Yesus di Bethlehem. Sejak abad keempat Masehi, pesta atau perayaan krismas ditetapkan tanggal 25 Disember, menggantikan perayaan Natalis Solis Invioti (kelahiran matahari yang yang tak tertandingnya/terkalahkan).





Telah diketahui, bahawa keyakinan Nasrani terhadap Isa as –yang mereka sebut Yesus– adalah sebagai Tuhan. Dan keyakinan ini menjadi salah satu penyebab kekufuran mereka. Banyak sekali ayat menegaskan hal ini, seperti firman Allah Swt:





لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ





“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (TMQ. al-Maidah [5]: 72).





لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ





“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahawasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa seksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TMQ. al-Maidah [5]: 73-74).



Bertolak dari fakta tersebut, perayaan Natal yang merayakan ‘kelahiran Tuhan’ merupakan sebuah kemunkaran besar. Sikap yang seharusnya dilakukan kaum Muslim terhadap pelakunya adalah menjelaskan kesesatan mereka dan mengajak mereka ke jalan yang benar, Islam. Bukan malah mengucapkan selamat terhadap mereka. Tindakan tersebut dapat dimaknai sebagai sikap ridha dan cenderung terhadap kemunkaran besar yang mereka lakukan. Padahal Allah Swt berfirman:



وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ



“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (TMQ. Hud [11]: 113).



Menurut Abu al-Aliyah, makna kata al-rukun adalah redha. Ertinya redha terhadap perbuatan orang-orang zalim. Ibnu Abbas memberi makna al-mayl iaitu (cenderung). Sedangkan menurut al-Zamakhsyari, al-rukun tidak sekadar al-mayl, namun al-mayl al-yasir (kecenderungan ringan). Ini bererti, setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezaliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan. Jelaslah, haram hukumnya kaum Muslimin terlibat dalam perayaan orang-orang kafir, samada Musyrik mahupun Ahli Kitab.





15 December 2008

NAFKAH ISTERI (PART 3)

NAFKAH ISTERI



Kewajipan Suami Menyediakan Pembantu

Imam An-Nawawi menyebutkan bahawa perempuan itu dua macam iaitu perempuan yang kebiasaannya mempunyai pembantu (khadam) dan perempuan yang tidak mempunyai pembantu. Oleh yang demikian menurut mazhab Syafi‘è tidak wajib menyediakan pembantu bagi isteri jika suami tidak mampu. Walau bagaimanapun suami dituntut menyediakan pembantu jika isteri dari keluarga yang kebiasaannya mempunyai pembantu. (Raudhah At-Talibin: 6/453-455) Dalam hal ini, suami juga dituntut (wajib) membayar nafkah bagi pembantu tersebut seperti bayaran gaji, makan minum dan pakaian (sekali setiap enam bulan). (Raudhah At-Talibin: 6/453-455)

Dalam pada itu Imam As-Syirazi pula menyebutkan bahawa suami hanya patut menyediakan seorang pembantu sahaja bagi isterinya dan pembantu itu adalah seorang perempuan atau seorang lelaki yang mempunyai hubungan mahram dengan siisteri. (Al-Majmuk: 19/367)

Pekerjaan yang wajib dilakukan oleh seorang pembantu isteri itu hanyalah mengenai hal-hal yang khusus dan diperlukan oleh isteri sahaja seperti menyediakan makan minum isteri, membasuh pakaian isteri, memasak makanan isteri dan menganggkat air untuk mandian dan untuk minuman.

Ada ulamak menyebutkan bahawa kerja-kerja harian di dalam rumah seperti memasak makanan suami dan mencuci pakaian suami, bukanlah menjadi kewajipan isteri dan pembantu tersebut; isteri hanya boleh melakukannya secara sukarela, bahkan ia adalah tugas suami sendiri atau ditangani oleh orang lain dengan cara upah dan sebagainya. (Al-Majmuk: 19/369 & I‘anah At-Thalibin: 4/114-115) Hukum ini adalah hasil ijtihad ulamak dan ia bertentangan dengan urf atau kebiasaan dalam masyarakat. Sedangkan urf dan kebiasaan itu boleh dipakai dalam menentukan dan menetapkan sesuatu hukum. Atas dasar ini, isteri boleh memasak, menyidai pakaian, mengasuh anak dan sebagainya, tetapi bukan sebagai kewajipannya. Beberapa alasan berikut juga boleh dijadikan hujah:

i. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman kepada para isteri yang tafsirnya :

“Dan isteri-isteri itu mempunyai hak yang sama seperti kewajipan yang ditanggung oleh mereka (terhadap suami) dengan cara yang sepatutnya”.

(Surah Al-Baqarah: 228)

Sebahagian ulamak tafsir menta’wilkan ayat di atas, supaya para isteri berkhidmat dengan baik ke atas para suami sepertimana para isteri berbuat taat kepada suami mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.(At-Thabari:2/613-614)

Pengarang kitab Fatawa Mu‘asyirah ada menyebutkan mengenai maksud perkataan al-makruf dalam ayat di atas, beliau berkata yang maksudnya :

“Khidmat seorang isteri kepada suaminya adalah makruf (kebaikan). Adapun membuat perempuan (isteri) itu bersenang-senang sementara lelaki melaksanakan urusan rumah seperti menyapu, mengisar gandum, menguli tepung, membuat roti, membasuh … (lain-lain lagi), bukanlah perkara yang makruf, (kerana) lelaki itu bekerja dan membanting tulang di luar rumah, maka demi keadilan sewajarnya wanita berperanan melaksanakan tugas-tugas rumah tersebut.

(Fatawa muàsyirah: 1/506)

ii. Suami adalah qawwam (pemimpin) dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap isteri sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta‘àla yang tafsirnya ;

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum wanita”.

(Surah An-Nisaa’: 34)

Oleh yang demikian, isteri hendaklah menjaga kepentingan suami. Maka jalan yang serasi dan bermuafakat dengan adat dan budaya orang Melayu ialah isteri bertanggungjawab dengan kerja-kerja rumah manakala suami pula hanya membantu. Tidaklah menjadi kesalahan, jika ada suami yang berminat dan bersedia melakukan kerja-kerja di rumah seperti kerja-kerja memasak, mengasuh anak dan menjahit pakaian sendiri, kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan perkara-perkara tersebut, sementara isteri pula bekerja di luar seperti berniaga dan sebagainya di atas kerelaan suami isteri.

iii. Terdapat beberapa riwayat yang menyatakan kehidupan harian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat sebagai suami dan isteri, yang masing-masing itu memberi khidmat dan bantu membantu antara satu sama lain; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membantu dan menolong ahli keluarga Baginda telah dijadikan contoh tauladan oleh umat manusia. Baginda sebagai seorang Rasul sekaligus sebagai pemimpin negara tidak camah mata kepada ahli keluarga Baginda. Ini terbukti dalam satu riwayat daripada Al-Aswat bin Yazid katanya yang maksudnya :

“Aku bertanya kepada Aisyah: “Apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kerjakan di rumah? Aisyah menjawab: “Baginda sentiasa melayani isterinya yakni membantu isterinya membuat kerja-kerja rumah. Maka apabila masuk waktu sembahyang Bagindapun keluar untuk sembahyang (ke masjid)”.

(Hadis riwayat Al-Bukhari)

Hadis diatas disokong lagi oleh hadis-hadis lain yang menceritakan Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri membuat kerja-kerja rumah seperti menjahit baju, mencuci pakaian, menampal kasut, memerah susu dan lain-lain, sebagaimana riwayat daripada Hisyam bin ‘Urwah daripada seorang lelaki katanya yang maksudnya :

“Aku bertanya kepada Aisyah: “Apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kerjakan di rumahnya? Aisyah menjawab: “Baginda sendiri telah menjahit baju dan menmpal kasut atau seumpama ini”.

(Hadis riwayat Ahmad)

Dalam riwayat yang lain yang maksudnya ;

Apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kerjakan di rumahnya? Aisyah menjawab:”Baginda sendiri menjahit bajunya dan menampal kasutnya, dan Baginda juga membuat pekerjaan yang dibuat oleh kebanyakkan orang lelaki (suami) di rumah-rumah mereka”.

(Hadis riwayat Ahmad)

Dalam riwayat yang lain lagi yang maksudnya ;

Apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kerjakan di rumahnya? Aisyah menjawab: “Baginda adalah manusia seperti manusia biasa di mana Baginda sendiri membersihkan (mencuci) pakaiannya, memerah susu kambing dan membuat kerja-kerja (yang lain) untuk dirinya sendiri”.

(Hadis riwayat Ahmad)

Berdasarkan hadis-hadis di atas jelaslah bahawa mengurus rumah dengan membantu para isteri itu adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan amalan tersebut bukanlah sebagaimana anggapan sebahagian orang awam sebagai “queen control”. Maka perbuatan tersebut hendaknya dikekalkan demi kerukunan dan kebahagiaan rumahtangga.

Begitu juga kehidupan harian para sahabat sebagai suami isteri, masing-masing mereka memberi khidmat dan bantu membantu antara satu sama lain. Sebagai contoh, Asma’ binti Abu Bakar, isteri sahabat Zubair bin Al-Awwam, sentiasa membantu suaminya dengan memberi makan kuda, mengangkat air dari tempat yang berbatu-batu jauhnya. Hal ini diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Abi Mulaikah yang maksudnya;

“Sesungguhnya Asma’ telah berkata: “Aku pernah memberikan khidmat (melayani) Az-Zubair dalam urusan rumahtangga. Dia (Az-Zubair) mempunyai seekor kuda dan akulah yang mengurusnya. Tidak ada suatu khidmat (kerja) yang lebih berat bagiku daripada mengurus kuda kerana akulah yang mencarikan rumput, menjaganya dan mengurus segala keperluannya.”

(Hadis riwayat Muslim)

Dalam riwayat yang lain yang maksudnya :

“Daripada Asma’ binti Abu Bakar katanya: “Az-Zubair mengahwini aku, dia tidak mempunyai harta, hamba dan apa pun di muka bumi ini selain seekor kuda”. Kata Asma’ lagi: “Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupkan keperluan makannya, mengurusnya, menumbuk biji kurma sebagai minumannya, memberinya makan, meminumkan air, melubangi timbanya dan mengadun roti. Tetapi aku tidak boleh membuat roti dengan baik, dan kaum wanita Ansharlah yang biasa membuatkan roti untukku. Mereka adalah para wanita yang ikhlas”. Beliau berkata lagi: “Aku biasa mengangkat biji kurma di atas kepalaku dari kebun Az-Zubair iaitu tanah yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanah itu kira-kira jauhnya satu pertiga farsakh dari kota.”

(Hadis riwayat Muslim)

Dalam riwayat yang lain Fatimah telah mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta seorang pembantu yang maksudnya;

“Daripada Ali bin Abi Talib, sesungguhnya Fatimah pernah mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, meminta kepada Baginda seorang pembantu. Lalu Baginda bersabda: “Bagaimana jika aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik untuk mu daripada seorang pembantu; iaitu kamu bertasbih kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali ketika hendak tidur, bertahmid (memuji Allah) sebanyak tiga puluh tiga kali dan membaca takbir kepada Allah sebanyak tiga puluh empat kali”.

(Hadis riwayat Al-Bukhari)

Berdasarkan hadis di atas, Fatimah dan suaminya pernah mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengizinkannya mendapatkan pembantu rumah. Tetapi Baginda mengajar Fatimah perkara yang lebih baik daripada seorang pembantu. Dengan makna yang lain Baginda melazimkan Fatimah agar terus melakukan sendiri kerja-kerja dan urusan rumahnya sekaligus tidak pula mengatakan kerja itu diserah kepada Ali kerana tanggungjawabnya sebagai suami. Jawapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada puterinya itu adalah suatu perakuan (taqrir) yang dengan sendirinya menurunkan hukum yang bakal dipakai oleh umatnya, iaitu dalam menentukan tanggungjawab siapa sepatutnya melakukan kerja-kerja rumah, suami atau isteri.

Fatimah Az-Zahra adalah salah seorang puteri Nabi iaitu penghulu segala wanita. Sebagai isteri kepada Saiyidina Ali bin Abi Talib, beliau turut serta memberi khidmat kepada suaminya dan melakukan sendiri kerja-kerja memasak, membuat tepung, mengadun, membuat roti dan mengisar tepung sehingga pecah-pecah kedua tangannya.

Berdasarkan hadis di atas juga Ibnu Hubaib mengatakan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan supaya Fatimah berperanan melakukan tugas-tugas dalaman, sementara Ali berperanan melakukan tugas-tugas luar. Maksud tugas-tugas dalaman ialah membuat tepung, memasak, menyapu dan semua kerja rumah. (Fath Al-Bari: 10/635)

Berdasarkan hujjah-hujjah di atas, adalah elok jika isteri dapat membuat pekerjaan atau perkara-perkara yang lazimnya dibuat oleh para isteri seperti memasak, mencuci pakaian, menyediakan makanan dan sebagainya untuk suaminya kerana agama Islam sangat menggalakkan umatnya bantu membantu dan tolong menolong antara satu dengan lain lebih-lebih lagi suami isteri. Dalam perkara tolong menolong dan bantu membantu ini Allah Ta‘àla telah menjelaskan dalam firmanNya yang tafsirnya :

“Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa”

(Surah Al-Maidah: 2)

FirmanNya yang lain yang tafsirnya :

“Dan mereka pula bersegera pada membuat dan mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan. Mereka (yang demikian sifatnya) adalah dari orang-orang yang salih”.

(Surah Ali Imran: 114)

Perkara sedemikian juga bersesuaian dengan budaya masyarakat Melayu iaitu kerja-kerja berat biasanya menjadi kewajipan suami manakala kerja-kerja ringan biasanya menjadi kewajipan isteri.

Nafkah ‘Iddah

Nafkah wajib diberikan kepada perempuan yang sedang dalam ‘iddah. Perempuan yang ber‘iddah raj‘e berhak mendapatkan nafkah berdasarkan firman Allah Ta‘àla yang tafsirnya :

“Tempatkanlah isteri-isteri (yang menjalani ‘idahnya) itu di tempat kediaman kamu”

(Surah At-Thalaq: 6)

Ayat di atas mewajibkan untuk memberikan tempat tinggal kepada isteri. Apabila tempat tinggal wajib diberikan, maka memberi nafkah juga wajib kerana nafkah itu mengikuti kewajipan memberikan tempat tinggal.

Wanita hamil yang ditalak juga berhak mendapatkan nafkah berdasarkan firman Allah Ta‘ala yang tafsirnya :

“Dan jika mereka berkeadaan sedang mengandung, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sehingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya”.

(Surah At-Thalaq: 6)

Berdasarkan ayat di atas nafkah adalah wajib ke atas perempuan hamil yang ber‘idah sama ada kerana talak raj‘i atau talak ba’in. Menurut Al-Khatib Asy-Syarbini tidak wajib nafkah terhadap isteri yang ber‘idah kerana kematian suami sekalipun mengandung sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

“Tidak (berhak) nafkah bagi isteri yang hamil dan kematian suami”.

(Hadis riwayat Ad-Daruqutni)

Manakala bagi perempuan yang sedang ber‘idah ba’in dan tidak hamil hanya berhak menerima tempat tinggal tanpa nafkah dan kiswah (pakaian). (Mughni Al-Muhtaj: 3/561-562)

Perempuan Yang Tidak Berhak Menerima Nafkah

Berdasarkan syarat-syarat di atas, kewajipan suami dalam memberikan nafkah adalah bergantung kepada syarat-syarat yang mesti ditunaikan oleh isterinya.

Imam An-Nawawi (Al-Majmuk: 19/244-247) menyebutkan bahawa perempuan yang tidak berhak untuk menerima nafkah itu terdiri daripada:

(i) Isteri yang masih kecil (yang belum disetubuhi) sekalipun dia sudah menyerahkan dirinya untuk dicampuri. Berdasarkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berkahwin dengan Aisyah Radhiallahu ‘ànha, Baginda tidak memberi nafkah selama dua tahun kerana belum mengaulinya. Sebaliknya jika yang masih kecil itu ialah suami sedangkan isteri sudah baliqh, maka wajib bagi suami yang kecil itu memberi nafkah kepada isterinya.

(ii) Apabila isteri berpindah dari rumah suaminya ke rumah lain tanpa alasan syar‘i atau pergi (musafir) tanpa izin suami.

(iii) Apabila isteri berpuasa sunat atau beri‘tikaf sunat tanpa izin suami.

(iv) Apabila isteri itu nusyuz (derhaka, berbuat maksiat terhadap suaminya atau tidak mahu mematuhi suaminya).

Sebab-sebab di atas adalah menyebabkan seorang isteri itu tidak berhak menerima nafkah, kerana dia telah menghalangi hak suami untuk menikmati dirinya tanpa uzur yang dibenarkan oleh syara‘.

Ulama juga sepakat mengatakan bahawa isteri yang dipenjarakan kerana melakukan kejahatan atau seumpamanya tidak wajib diberikan nafkah. (Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu: 10/7382)

Penutup

Berdasarkan penjelasan yang telah dihuraikan di atas, dalam apa jua keadaan suami mempunyai satu darjat kelebihan ke atas seorang perempuan (isteri), kerana suamilah yang berkuasa mengawalnya dan memberi mereka nafkah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala yang tafsirnya :

“Dalam pada itu orang-orang lelaki (suami-suami itu) mempunyai satu darajat kelebihan atas orang-orang perempuan (isteri-isteri)”.

(Surah Al-Baqarah: 228)

Pendeknya, seorang isteri adalah menanggung kewajipan terhadap suaminya yang wajib dilaksanakannya dengan cara yang baik, maka begitulah juga suami menanggung kewajipan terhadap isterinya yang wajib dilaksanakannya dengan cara yang baik juga, sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta‘ala dalam firmanNya yang tafsirnya :

“Dan isteri-isteri itu mempunyai hak yang sama seperti kewajipan yang ditanggung oleh mereka (terhadap suami) dengan cara yang sepatutnya (tidak dilarang oleh syarak)”.

(Surah Al-Baqarah: 228)